Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemdikbudristek menyelenggarakan Festival Pendidikan Kesetaraan (Festival Setara) sebagai bentuk apresiasi kepada penyelenggara, pamong, tutor, peserta didik serta alumni Pendidikan Kesetaraan dalam bentuk melalui berbagai jenis lomba.

Selain itu, terdapat apresiasi lainnya untuk para pendidik kesetaraan Indonesia dengan hadirnya acara Apresiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Indonesia Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (DPP-FTPKN) yang diselenggarakan di Bulan April 2021.

Dessi Surya, yang sering disapa Kak Dessi merupakan seorang Tutor pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV - VI tingkat SD Sekolah Kak Seto berhasil meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional, seperti yang diselenggarakan oleh Kemendikbud baik acara Apresiasi Tutor Pendidikan Kesetaraan Indonesia Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (DPP-FTPKN) maupun dalam rangka Festival Pendidikan Kesetaraan pendukung Hari Aksara Internasional dengan inovasi media pembelajaran yang ia namai “Kotasik”  atau Kotak Cerita Asik. 

Kak Dessi mengungkapkan, inovasi media pembelajaran tersebut terinspirasi  secara spontan saat pelatihan media pembelajaran beberapa waktu sebelum lomba dilaksanakan. 

“Sekolah Kak Seto mengadakan pelatihan secara online di tahun 2021 yang menjadi awal mula ide pembuatan media pembelajaran “Kotasik”. Saat pelatihan media pembelajaran yang diselenggarakan oleh Sekolah Kak Seto, sebelum adanya pengumuman perlombaan dimulai. Selama 2 (dua) hari pelatihan, Kak Dessi memperoleh poin tertinggi disandingkan dengan para tutor lainnya. Kak Dessi juga menjelaskan selama pelatihan kami dibagi berkelompok lalu dijelaskan bagaimana cara menjadi tutor yang kreatif, cerdas dan ceria. Kami diminta untuk membuat media pembelajaran secara spontan dengan peralatan yang ada di sekitar kita.  Karena saat itu WFH dan yang mudah ditemukan di rumah adalah kotak tisu yang berada tepat di depan mata dan langsung secara spontan dalam waktu lima menit diminta untuk memikirkan media apa yang cocok untuk mengajarkan kepada adik-adik agar pembelajaran di kelas itu menarik. Setelah itu, kami diminta untuk menjadikan barang tersebut menjadi produk untuk dijual yang menarik lalu dianalogikan menjadi media pembelajaran yang menarik untuk adik-adik. “

Pada Akhirnya terpikir untuk menjadikan kotak tisu sebagai media pembelajaran bertajuk “Kotasik” dari latar belakang keluhan orang tua maupun siswa yang merasa lebih banyak bermain gadget muncul ide “Kotasik” Kotak Cerita Asik, media belajar yang simpel yang dibuat berlatar belakang terinspirasi dari adik-adik selama pandemi yang memiliki keterbatasan interaksi secara langsung baik dengan teman sebaya maupun dengan lingkungan keluarga. Oleh karena itu,  adik-adik lebih senang dengan gadget daripada mengobrol dan cerita dengan orang-orang rumah. Dampak lainnya adik-adik juga menjadi sering bermain game dan enggan bercerita dengan orang sekitar rumah dan mulai bosan belajar.

Dari inovasi media belajar ini Kak Dessi menjelaskan bahwa kemampuan menulis membantu adik-adik lebih cepat paham dan Kotasik ini juga digunakan untuk memahami pemikiran mereka tentang suatu hal itu. 

“Jadi adik-adik akan menulis apa yang dia kurang sukai atau apa yang dia rasakan saat itu nanti disimpan di kotak tersebut nanti setiap seminggu sekali “Kotasik” akan  dibuka oleh orang tuanya jadi nantinya akan ada feedback dari orang tuanya.” Ucap Kak Dessi.

Tak hanya itu, Kak Dessi menyampaikan bahwa akhirnya ada info lomba. Lalu, tepat ada jadwal mengajar dan materinya tentang membuat puisi untuk anak SD yaitu tentang mendeskripsikan suatu hal, suatu benda, dll.Pada awalnya, karena adik-adik merasa puisi itu susah dan kata-kata yang digunakan sulit dimengerti, namun melalui “Kotasik” adik-adik  mencurahkan isi hatinya, ditulis, dimasukan ke dalam kotak dan mengambil salah satu dari tulisan yang berisi perasaannya yang disalin diubah bentuknya dalam puisi. Akhirnya dari apa yang dirasakan diubah menjadi bentuk puisi, terdapat peningkatan dari adik-adik selama memakai media pembelajaran”Kotasik”. Setelah itu, setelah mengetahui hasil pembelajarannya baik lalu putuskan ikut deh. 

Perlombaan dilakukan beberapa penyeleksian mulai dari administrasi, seleksi tahap 60 besar, sampai di 29 besar diadakan presentasi dan wawancara para finalis. Saat presentasi dan wawancara Kakak tutor pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia atau biasa disapa Kak Dessi mengaku merasa deg-degan dikarenakan seperti sedang sidang kelulusan atau skripsi yang dinilai oleh 3(tiga) penguji.

Inovasi ciptaannya tersebut berhasil memenangkan juara Harapan 1 (Paket A, B, C) disatukan mendapatkan 4 juara) di Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan Nasional (DPP-FTPKN) dan juara Harapan 1 di Festival Pendidikan Kesetaraan pendukung Hari Aksara Internasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Meskipun demikian, Kak Dessi mengungkapkan persiapan yang dilakukan dengan membuat karya ilmiah. Meskipun demikian, Kak Dessi mengakui bahwa proses pembuatan karya ilmiah tidaklah mudah. Namun, semangat dari teman-teman tutor lainnya dan dukungan dari para orang tua siswa membuat semakin semangat untuk membuatnya. Selain itu, melihat peserta didik yang selama ini menemani belajar membuat ia semakin termotivasi untuk membuktikan kepada para peserta didik sekaligus agar memotivasi peserta didik untuk semangat berkompetisi semoga dapat ditirukan oleh mereka. 

Kak Dessi juga menceritakan bahwa dirinya sangat termotivasi dalam mengikuti lomba tersebut. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kak Dessi bahwa

“Karena apa yang kita temukan (kreasikan) media pembelajaran untuk adik-adik saat KBM dapat diperlihatkan dan semoga bisa jadi bahan rujukan buat saya pribadi maupun teman tutor lain termotivasi untuk kreatif membuat media pembelajaran dengan pembuatan sederhana dan dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan.” Ucap Kak Dessi tutor mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IV - VI SD Sekolah Kak Seto.

Meskipun pada awalnya agak ragu karena melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara online karena pandemi covid-19 dengan durasi lomba satu bulan. Tidak disangka lomba yang ia ketahui dari sekolah Kak Seto mengantar Kak Dessi kepada kemenangan sekaligus mengantarkan ia berlibur ke kota impiannya sejak lama yaitu Jogja.